GEREJA DI PERSIMPANGAN – kemunafikan itu mengatas namakan “OTORITAS”

Penyimpangan pengajaran oleh Gereja banyak dilakukan. Hamba Tuhan yang dahulu rendah hati, kini banyak yang menjadi lupa diri.
Dahulu di zaman Daniel ada raja Nebukadnezar yang karena sombongnya dikutuk untuk hidup menyerupai lembu.
Kini ada pak Niko Njotorahardjo, yang kalau tidak waspada akan bujukan orang sekelilingnya yang kurang peka suara Tuhan, dapat menjadi Nikokadnezar

Saya telah mengenal sosok Pak Niko sejak tahun 1989-an, sejak membuka gereja Bethel, pertama kali di daerah Senayan, di Gedung Karsa Pemuda.Banyak visi dari Pak Niko yang benar-benar memberkati.
Selain itu, Pak Niko juga mengeluarkan album-album rekaman. Lagu-lagu Pak Niko benar-benar khas karna:
– sederhana lirik katanya, tapi sangat tinggi nilainya
– mudah dihapal/diingat kembali
– Alkitabiah (seperti:”siapakah aku ini Tuhan,jadi biji mata-Mu?)
bahkan lagu-lagu terakhir, seperti Mujizat Masih Ada, Aku Percaya benar-benar telah membawa gelombang kegerakan rohani dan mengantarkan banyak mujizat Tuhan melalui lagu-lagu pujian.

Kepemimpinan Pak Niko sangat rendah hati namun penuh visi/misi. Ketika di sekitar tahun 1997-2000,karena Pak Niko rajin membuka gereja baru (khususnya di Jabodetabek) beliau banyak dikeluhkan oleh pendeta sesama Kristen (bahkan sesama GBI), beliau tetap aktif membuka gereja baru, namun dengan menghormati gereja lain yang sudah ada. Pernah terjadi, ketika meninjau sebuah calon lokasio GBI baru di kawasan kebayoran, team didatangi pendeta dari dekat situ yang memohon untuk tidak membuka cabang di situ, beliau dan para pendeta lain sepakat untuk tidak jadi masuk ke daerah itu,karena di dekatnya sudah ada gereja Bethel.

Ketika pada pertengahan tahun 1997, beliau menyampaikan visi dari Tuhan ,bahwa akan ternadi “goncangan” besar di dunia, banyak hamba Tuhan yang menyangsikan hal tersebut. Namun terbukti, pada bulan agustus 1997, krisis moneter sudah sangat menggoyahkan perekonomian Indonesia.

Pada tahun 2006, dimulai fund-rising pembangunan gedung SCCC (sekarang menjadi SICC). Kini sesudah 2 tahun ,gedung SICC telah selesai dibangun
Setiap sabtu bulan pertama digelar sidang raya para pengerja di Sentul, para pengerja diwajibkan untuk ikut, dan untuk ikut harus mendapatkan badge dari pusat.

Tahun 2009, terjadilah pemaksaan oleh orang-orang sekitar Pak Niko, dengan mengatasnamakan “OTORITAS”,menjelang konferensi yang akan diadakan di Sentul, dilakukan fund raising dengan sasaran pertama para pengerja berstatus pimpinan yang menghadiri MENARA DOA PEMIMPIN (saat itu di Auto Graha Gading). Badge para pengerja langsung disita dan baru dikembalikan setelah para pengerja itu mau mengheluarkan sejumlah dana (yang cukup besar) untuk pengadaan konferensi tersebut.
Jelas cara seperti ini sangat vulgar dan bertentangan dengan Firman Tuhan. Yesus ajarkan “tangan kanan memberi, tangan kiri tidak mengetahui apa yang diberi tangan kanan”
Jelas kebijakan “menyita” badge pengerja bukanlah ide dari Pak Niko, tetapi dari satu atau beberapa orang dekatnya. Tokoh yang sangat berpengaruh dalam hal ini adalah Johan Handojo dan Janto Simkoputra

Terbukti, satu dari “orang terdekat “Pak Niko,pada tahun 2011 di “non-aktifkan” , yaitu Pak Kim Seng, walaupun beliau adalah salah satu dari perisai doa Pak Niko.Degan tidak menunjuk nama “orang dekat” Pak Niko tersebut, rasanya tak berlebihan kalau kami menghimbau para pengerja/jemaat GBI yang digembalai Pak Niko untuk mendoakan agar kepemimpinan GBI ini tidak dicampuri keinginan pribadi/kelompok.

Kemudian terjadi, bajak-membajak pengerja an jemaat. Pak Niko seolah terjebak untuk mendukung keluarga dan sahabatnya. GBI Senayan City yang dinakhodai putra pak Niko yaitu Billy Njotorahardjo, sadar ataupun tidak telah mengambil banyak pengerja maupun jemaat dari gereja lain, dan Budi Sastra sebagai Ka Rayon 1F mendirikan gereja baru, yaitu ICON dan merebut jemaat dan pengerja gereja lain terutama dari GBI SonaTopas. Tapi pak Niko mati-matian membela, bahkan membawanya dalam Doa Pengerja di Sentul, 6 Juli 2013.
Beliuau lupa, banyak orang di sekitarnya adalah advonturir, dan advantage taker. Tokoh yang kurang integritasnya banyak yang tahu, seperti Bambang Riyanto yang ketika memimpin rayon kebayoran, suka memanipulasi persembahan. Demikian juga Budi Sastra yang tricky. Budi Sastra merebut pengerja dan jemaat GBI Sona Topas, bahkan suka menamakan gerejanya sebagai GBI Intercon (padahal gerejanya adalah GBI Icon)

Tentang ichtius

Suara yang berseru di padang gurun, persiapkan Jalan Bagi Tuhan.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke GEREJA DI PERSIMPANGAN – kemunafikan itu mengatas namakan “OTORITAS”

  1. Mr WordPress berkata:

    Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

  2. Casper Diaz berkata:

    Selamat siang Pak/Ibu, bolehkah saya sharing tentang ke benaran berita2 ini, trutama berita tentang Orang terdekat Bpk Niko yang banyak menghancurkan pak niko sendiri

  3. Sonny Gims berkata:

    Anda butuh sound system berkualitas untuk Orchestra Gereja ?
    Hubungi kami “QualitySoundRental.com”
    0818817900 / 021-9300900 atau melalui email quality.sound.rent@gmail.com sekarang juga,
    Percayakan acara penting anda pada kami, dan anda akan mendapatkan hasil yang terbaik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s